Pentingnya Mengenal Gangguan ADHD Sejak Dini Untuk Pertumbuhan Anak

ADHD pada anak

Semenjak pandemi COVID-19 berlangsung, masalah mengenai kesehatan mental terus meningkat keberadaannya. Hal ini diumumkan langsung oleh WHO (World Health Organization) dalam acara ‘Rethinking Mental Health: A Commonwealth Call to Support, Care and Transform di Rwanda, 22 Juni 2022 kemarin. WHO menyatakan keberadaan pandemi COVID-19 telah memengaruhi banyak kesehatan mental orang.

Salah satu gangguan kesehatan mental yang cukup umum untuk ditemukan di Indonesia adalah ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). ADHD merupakan gangguan mental saraf yang menghambat pemusatan perhatian yang disertai kondisi hiperaktif serta impulsif.

Apa Penyebab dari ADHD?

Untuk saat ini, masih belum ditemukan penyebab pasti dari ADHD. Namun menurut Brinkerhoff, kondisi ini disebabkan karena 2 faktor, genetik dan luar/eksternal. Faktor genetik merupakan faktor yang diturunkan dari orang tua, sedangkan faktor luar dapat disebabkan oleh hal-hal seperti :

  • Keadaan kelahiran prematur
  • Konsumsi alkohol dan rokok saat hamil
  • Terpapar timah dalam kadar tinggi
  • Kerusakan pada otak sebelum lahir

Apa Saja Gejala dari ADHD?

Orang dengan ADHD memiliki beberapa gejala berkelanjutan yang terbagi berdasarkan kondisinya:

  • Inattention (Kesulitan Fokus), merupakan gejala yang memungkinkan seseorang mengalami kesulitan untuk mempertahankan fokusnya, baik pada tugas maupun pelajaran.
  • Hyperactivity (Hiperaktif), merupakan gejala yang menyebabkan pengidapnya untuk bergerak terus-menerus tanpa memperdulikan waktu dan situasinya. Gejala ini bisa datang dalam bentuk kegelisahan, ketukan, atau berbicara tanpa istirahat.
  • Impulsivity (Impulsif), merupakan gejala yang menyebabkan seseorang untuk bertindak tanpa berpikir karena mengalami kesulitan untuk mengontrol dirinya. Orang yang impulsif dapat mengganggu orang lain atau membuat keputusan penting tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.

Baca Juga: Sering Disalah Artikan, Yuk Kenali Apa Itu OCD Yang Sebenarnya

ADHD memiliki gejala yang cukup bervariasi, dan itu semua tergantung dari umur pengidapnya. Untuk orang dewasa, ADHD biasanya mempengaruhi mereka dalam kehidupan sosial, ini dikarenakan mereka memiliki kesulitan untuk memperhatikan hal dan detail pada saat melakukan percakapan. Selain itu, mereka juga hanya bisa fokus pada satu hal saja dalam melakukan pekerjaan, yang akhirnya sering kali mengganggu performa mereka dalam bekerja.

Namun pada anak-anak, ADHD menunjukan gejala yang lebih rentan dan sulit untuk dihadapi. Biasanya, mereka memiliki masalah dalam menahan fokus dan emosi mereka, sehingga sulit bagi mereka untuk bisa bersikap tetap tenang. Mereka memiliki kesulitan untuk menahan diri mereka dan cenderung untuk bersikap hiperaktif, sehingga berdampak pada cara mereka dalam berinteraksi, menerima ilmu, hingga meluapkan emosi.

Beberapa contoh akibat dari gejalanya adalah kesulitan dalam belajar, hiperaktif ketika bermain, dan tidak fokus saat diajak berbicara.

 

Apa Pengaruh ADHD Terhadap Pertumbuhan Anak?

Minimnya edukasi mengenai ADHD membuat masih banyak masyarakat yang menganggap kondisi ini tidak berhubungan pada masalah kesehatan sama sekali, terutama pada anak-anak.

ADHD sering dianggap normal pada umur anak-anak karena sifat dan perilaku yang dihasilkan masih sering dianggap wajar untuk dilakukan dalam umur mereka. Padahal kenyataannya, kondisi tersebut merupakan gangguan perkembangan saraf pada anak dan membutuhkan penanganan secara medis dan psikis untuk bisa dikendalikan.

Kondisi ini menyebabkan anak mengalami kesulitan untuk memproses suatu tindakan dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Jika lingkungan yang ditempati tidak mendukung kondisi mereka, keadaan ini akhirnya mengharuskan mereka untuk harus menyesuaikan diri, sementara mereka memiliki kesulitan dalam beradaptasi karena emosi dan fokus mereka yang tak terkendali.

Pada akhirnya, hal tersebut hanya akan menghasilkan dampak negatif yang berkelanjutan pada perkembangan mereka.

Bagaimana Menangani ADHD pada Anak?

Sayangnya, ADHD tidak dapat disembuhkan, namun dengan mengenali gejalanya lebih awal kita dapat melakukan penanganan yang tepat dan memberikan anak terapi yang efektif untuk meminimalkan gejalanya.

Sebagai orang tua, Anda memiliki peran yang paling besar dalam pertumbuhan mereka. Dalam menghadapi anak dengan ADHD, kita harus bisa untuk lebih tenang dan perhatian, karena mereka memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menunjukan sifat hiperaktif dan impulsif dalam menerima dan memproses emosi mereka.

Beberapa metode terapi dapat dilakukan, seperti terapi psikoedukasi. Terapi tersebut merupakan pengetahuan konsep dari suatu kondisi kesehatan dengan memberikan pengenalan dan pengajaran teknik mengatasi gejala-gejala dari perilaku mereka, serta peningkatan dukungan yang diberikan. Hal ini dapat dilakukan agar anak-anak lebih tahu akan kondisi yang mereka miliki, dengan itu mereka akan lebih sadar akan dampaknya bagi kesehatan maupun lingkungan mereka.

Beberapa terapi alternatif bisa dilakukan seperti terapi perilakukognitif, dan sosial. Dalam melakukan terapi, tentu konsultasi dengan profesional juga harus dilakukan, dengan itu penanganan yang dilakukan juga dapat dilaksanakan dengan tepat.

Kalian dapat menemukan potensi ADHD pada anak melalui tes DNA di Asaren. Hubungi customer service kami untuk info lebih lanjut.

 

Sumber:

  • Jurnal – National Institute of Mental Health “Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder”
  • Jurnal Unpad – “PELAYANAN KHUSUS BAGI ANAK DENGAN ATTENTIONS DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER (ADHD) DI SEKOLAH INKLUSIF”. Oleh Devie Lestari Hayati, Nurliana Cipta Apsari. 2019

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll Up