Waspada Penyakit Long QT Syndrome Yang Bisa Menyerang Tiba-Tiba!

Long QT Syndrome
Ditinjau oleh dr. Venty Muliana Sari

Salah satu masalah kesehatan yang berpotensi menyebabkan kematian adalah yang menyerang jantung. Gangguan jantung seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), mungkin bukanlah hal yang asing lagi di telinga masyarakat. PJK sering mengakibatkan serangan jantung dan kematian mendadak.

PJK disebabkan oleh kerusakan lapisan pembuluh darah yang menyumbat aliran darah ke jantung, yang biasanya dikaitkan dengan kadar lemak darah tinggi akibat pola makan yang tidak sehat. Penyebab penyakit jantung sebagian besar adalah karena faktor lingkungan (pola makan, stress dan sebagainya). Namun ada juga penyakit jantung yang bisa terjadi akibat kelainan genetik yang memiliki risiko kematian tinggi sama, yaitu Long QT Syndrome (LQTS).

LQTS atau Sindrom QT Panjang merupakan gangguan yang menyerang sistem elektrik jantung sehingga mereka tidak dapat berfungsi secara normal. Penyakit ini sulit untuk dideteksi keberadaanya dan biasanya baru bisa terdeteksi setelah pengidapnya mengalami komplikasi dari gejala LQTS atau tidak sengaja diketahui dari pemeriksaan rekam jantung / Elektrokardiografi (EKG), misalnya saat menjalani Medical Check-up.

 

Apa Faktor dan Penyebab dari Long QT Syndrome?

LQTS disebabkan oleh pemanjangan interval QT. Pemanjangan interval QT sendiri terbagi menjadi 2 berdasarkan faktornya, yaitu akibat kelainan genetik dan kelainan yang didapat karena gangguan dari faktor luar misalnya ketidakseimbangan elektrolit, efek samping obat, dan sebagainya.

Kelainan genetik yang menyebabkan LQTS biasanya adalah adanya mutasi (perubahan susunan DNA) pada gen yang mengontrol kanal ion untuk arus listrik di bilik jantung. Saat ini diketahui setidaknya ada sekitar 15 mutasi yang bisa menyebabkan penyakit LQTS. Kelainan genetik ini kita bawa sejak lahir namun gejala klinis biasanya baru muncul saat di usia anak-anak, remaja atau dewasa muda, dengan rata-rata onset pertama terjadi di usia 14-15 tahun.

Kebanyakan gejala sudah bisa terlihat pada usia muda, namun ada juga beberapa laporan kasus yang menemukan gejala LQTS baru muncul pada usia di atas 40 tahun. Biasanya, orang yang memiliki riwayat LQTS dalam keluarganya akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengidap kondisi tersebut.

Baca Juga: Punya Risiko Diabetes Yang Tinggi? Lakukan 5 Olahraga Ini Secara Rutin!

wanita muda penyakit jantung

Layaknya alat elektronik, tubuh kita juga menggunakan listrik untuk dapat bekerja. Listrik tersebut berasal dari sinyal yang dikirimkan oleh otak ke seluruh tubuh agar mereka dapat melakukan tugasnya masing-masing.

Dalam proses jantung untuk bisa berdetak, sinyal berupa listrik akan dikirimkan oleh otak ke jantung untuk dapat melakukan kontraksi dan relaksasi bilik jantung. Setelah selesai melakukan 1 detakan, otak akan kembali mengulang proses pengiriman sinyal ke jantung untuk melakukan detak jantung yang berikutnya.

Namun pada penderita Long QT Syndrome, jantung mengalami gangguan yang membuat sinyal yang dikirimkan oleh otak terhambat dalam proses penyalurannya. Hal ini akhirnya menyebabkan bilik jantung tidak bisa melakukan kontraksi dengan normal, sehingga menyebabkan interval detak jantung yang memanjang.

Apa Saja Gejala dari Long QT Syndrome?

Long QT Syndrome dianggap sebagai salah satu penyakit yang berpotensi menyebabkan kematian, karena gejala beratnya yang bisa muncul tiba-tiba. Namun dalam beberapa kondisi, Long QT Syndrome dapat menunjukan beberapa gejala yang beragam, seperti pingsan, pusing berkelanjutan, kejang-kejang, penglihatan kabur, hingga gangguan detak jantung secara mendadak.

Pada beberapa kasus, kondisi jantung mereka biasanya akan kembali normal dengan sendirinya. Namun untuk beberapa kasus lainnya dapat terjadi kegagalan pengembalian fungsi jantung sehingga dapat mengakibatkan suatu kondisi yang fatal.

 

Bagaimana Penanganan Long QT Syndrome yang tepat?

Untuk mengetahui diagnosis kondisi ini, kita membutuhkan pemeriksaan dari dokter. Dokter akan menganalisa fungsi jantung dengan berbagai metode mulai dari pemeriksaan fisik jantung, EKG hingga pemeriksaan lainnya untuk menyingkirkan penyebab pemanjangan interval QT selain LQTS, dengan itu mereka dapat mengambil keputusan apakah kita memiliki gangguan Long QT Syndrome atau tidak.

Jika memang sudah mendapatkan diagnosanya, biasanya dokter akan merekomendasikan beberapa penanganan seperti pemberian obat-obatan hingga terapi operasi jika diperlukan, misalnya untuk pemasangan alat pacu jantung Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) yang dapat membantu jantung berdetak lebih teratur atau operasi denervasi saraf simpatis yang disebut dengan Left Cardiac Sympathetic Denervation (LCDS).

Namun, kita bisa meminimalisir risiko gejala berat dari Long QT Syndrome dengan menerapkan pola gaya hidup seperti :

  • Menghindari aktivitas olahraga yang terlalu berat
  • Mengkonsumsi makanan sehat
  • Menghindari stres emosional yang berlebihan
  • Rutin melakukan Medical Check-Up

Pentingnya menjaga kesehatan jantung

Dengan pola hidup yang sehat dan penanganan yang tepat, gejala berat dari Long QT Syndrome dapat kita antisipasi. Selain itu, studi terkini telah mengungkapkan adanya hubungan antara kondisi genetik dengan gejala klinis LQTS.

Dari data Clinical Genome Resource (ClinGen), terdapat 7 gen yang berkaitan erat dengan LQTS, dan terdapat 3 jenis subtipe LQTS berdasarkan gen yang memiliki karakteristik gejala, potensi risiko kematian dan respon yang berbeda terhadap terapi. Dengan mengetahui LQTS apa yang kita miliki, kita dapat membantu dokter untuk mengenali potensi LQTS serta pemilihan terapi yang tepat.

Kamu juga bisa menemukan tingkat risiko Long QT Syndrome yang kamu miliki melalui tes DNA di Asaren, hubungi customer service kami untuk info lebih lanjut.

 

Sumber:

  • Medical Journal of Indonesia “Long QT Syndrome”
  • National Center for Biotechnology Information – Al-Akchar M, Siddique MS. “Long QT Syndrome”.
  • Guettler, Norbert et al. “The impact of age on long QT syndrome.” Aging vol. 11,24 (2019): 11795-11796. doi:10.18632/aging.102623
  • Wilde AAM, Amin AS, Postema PGDiagnosis, management and therapeutic strategies for congenital Long QT Syndrome Heart 2022;108:332-338.

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up